Jumat, 20 April 2012

JAKA TARUB

Diposting oleh ikawati prasiwi di 05.56
Jaman dahulu di Desa Tarub, tinggallah seorang janda bernama Mbok Sumi. Ia mempunyai anak yang  diberi nama Jaka Tarub. Jaka Tarub tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti pada ibunya. Setiap hari ia membantu Mbok Sumi mengerjakan pekerjaan diladang. Dari hasil panen yang diladang itulah mereka dapat hidup. 
Waktu terus berlalu Jaka Tarub kini tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Dia sangat tampan,santun,dan dikagumi oleh banyak para gadis didesanya. Namun Jaka tidak ingin cepat-cepat menikah,ia ingin berbakti kepada Mbok Sumi. Semakin bertambahnya umur Jaka semakin giat bekerja diladang,sehingga hasil panen  pun berlimpah ruah. 
Suatu hari Mbok Sumi bertanya kepada Jaka Tarub “Jaka anakku, sudah waktunya kau untuk meminang gadis,si mbok ingin cepat-cepat menimang cucu nak”,ujar Mbok Sumi. “Jaka belum ingin mbok”, jawab Jaka Tarub. “Tapi jika simbok tidak ada,siapa yang akan merawat dan menjagamu nak ? ” Tanya Mbok Sumi lagi. “Sudahlah mbok,si mbok jangan berpikir seperti itu.Semoga kelak si mbok berumur panjang.” Jawab Jaka lagi.
“Hari sudah siang,tapi si mbok belum juga bangun,” Gumam Jaka Tarub. Jaka pun mendatangi Mbok Sumi dikamarnya. “Simbok sakit ya,badan simbok panas sekali ?” Tanya Jaka Tarub,sambil menyentuh kening Mbok Sumi. “Iyaa le,” jawab Mbok Sumi dengan suara lemah. Jaka pun segera mengambil daun dhapdhap serep untuk mengompres simboknya. Namun usaha Jaka sia-sia. Umur Mbok Sumi hanya sampai hari itu,siang harinya Mbok Sumi sudah meninggal dunia.
Semenjak kematian Mbok Sumi,Jaka Tarub menjadi malas untuk bekerja diladang. Kerjanya diladang  hanya melamun. Sehingga ladangnya pun menjadi tidak terurus.
Di suatu malam Jaka bermimpi ia memakan daging kelinci  dihutan. Setelah terbangun dari mimpinya Jaka pun langsung berselera makan daging kelinci. Ia kemudian langsung bergegas menuju hutan dan membawa senapan. Namun setelah sampai dihutan yang didapat hanyalah rasa lelah. Karena tidak ada satu pun kelinci yang ia temukan. Padahal Jaka Tarub telah masuk kedalam hutan yang jarang sekali ada manusia yang masuk kesana.
Ditengah kesunyian hutan,sayup-sayup terdengar suara para gadis sedang bersuka ria. “Suara orangkah itu,” gumamnya. Jaka pun mencari asal suara itu,dan sampailah dia disebuah telaga ditengah-tengah hutan. Disana ada 7 gadis cantik mereka adalah  para bidadari. Tidak jauh dari telaga tempat para bidadari mandi,ada selendang mereka. Tanpa pikir panjang Jaka Tarub pun mengambil dan menyembunyikannya.
“Nimas, ayo cepat naik kedarat, hari sudah semakin senja. Kita harus kembali kekahyangan,” kata bidadari yang paling tua. Para bidadari pun naik ke darat dan mengenakan selendangnya masing-masing.
“Kakak,selendangku tidak ada,” anya salah seorang bidadari.
Keenam bidadari pun mencarikan selendang Nimas yang hilang, namun lagi-lagi selendang itu tidak ditemukan. “Nimas kami tidak bisa menunggumu terlalu lama,kami harus cepat-cepat kembali kekahyangan. Mungkin sudah nasibmu untuk tinggal dan menetap dibumi,” ujar salah seorang bidadari. Keenam bidadari itu terbang dan meninggalkan Nawang Wulan.
Nawang Wulan pun menangis,meratapi kesedihannya. Saat itulah Jaka Tarub datang menolong. Diajaklah Nawang pulang kerumahnya,selang beberapa bulan mereka menikah. Bahagia sekali Jaka Tarub,ia mendapatkan istri yang sangat cantik dan rajin. Keduanya hidup berbahagia.
Pada suatu hari Nawang berpesan kepada Jaka Tarub “kakang aku sedang memasak jagalah apinya,jangan kau buka kukusan nasi itu,” pesan Nawang.
Jaka pun penasaran dengan isi kukusan itu,kemudian ia membukanya dan betapa kagetnya dia setelah membuka. Kukusan itu berisi setangkai padi. “Pantas saja padi digudang tidak pernah habis,ternyata istriku sangat ajaib dalam memasak. Hanya setangkai padi tapi bisa menghasilkan I kukusan penuh,” gugam Jaka Tarub. Tak lama setelah itu Nawang pulang dan ia segera membuka kukusan padi tadi. Alangkah terkejudnya Nawang setelah mengetahui bahwa kukusan nasinya tadi telah dibuka oleh suaminy. Hilang sudah kesaktian Nawang Wulan,sejak saat itu Nawang memasak nasi dengan cara wanita pada umumnya. Padi digudang pun semakin sedikit. Dan suatu saat Nawang menemukan selendangnya terselip diantara padi-padi. Nawang pun tahu bahwa suaminyalah yang selama ini menyembunyikan selendangnya.
Nawang Wulan pun segera memakai selendangnya dan  bergegas menemui suaminy diladang. “Kakang aku harus kembali kekahyangan,jagalah anak kita,” Pesan Nawang Wulan
Jaka Tarub pun menangis dan menyesali perbuatannya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita Jaka Tarub adalah                    

*      Nilai Kejujuran                        :
Jaka Tarub tidak jujur kepada istrinya bahwa dialah yang mengambil selendang sang istri sewaktu mandi di Telaga
*      Nilai Kesenangan                    :          
Jaka Tarub akhirnya menemukan seorang istri yang cantik yaitu seorang bidadari. Kemudian mereka menikah dan hidup bahagia.
*      Nilai Kasih Sayang                 :
Mbok Sumi sanagt menyanyangi Jaka begitu juga Jaka. Dia sangat berbakti dan nurut pada Mbok Sumi

0 komentar:

Posting Komentar

 

chikaikha story Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea